
OPINI l Saban tahun, kita terus merayakan secara gembira kelahiran organisasi perjuangan untuk umat dan bangsa ini. Organisasi yang lahir bukan dari patron mana pun, bahkan kehadirannya adalah anomali sejarah sebuah organisasi mahasiswa pada saat itu.
Tubuh HMI diisi oleh spirit keislaman dan keindonesiaan—dua fondasi yang tidak pernah dipertentangkan, melainkan dipadukan sebagai energi gerak kolektif.
Namun setelah 79 tahun, pertanyaannya menjadi lebih serius:
Apakah kita masih sekadar merayakan usia, atau sedang benar-benar menguji relevansi?
HmI lahir pada masa republik ini masih rapuh. Ia hadir untuk menjawab dua tantangan besar: Mempertahankan dan Mempertinggi Derajat Rakyat Indonesia dan Menegakkan dan Mengembangkan Ajaran Islam. Di tengah tekanan ideologi global dan tarik-menarik kepentingan politik, HmI berdiri sebagai rumah perjuangan yang menegaskan bahwa Islam dan Indonesia bukan dua kutub yang bertolak belakang, tapi Islam dan Indonesia dipadukan menjadi kekuatan kolektif untuk mencapai tujuan bersama.
Hari ini, tantangannya berbeda.
Kita tidak lagi berhadapan dengan agresi fisik-militeristik. Kita menghadapi krisis integritas, pragmatisme politik, disorientasi intelektual, dan melemahnya idealisme generasi muda. Kampus bukan lagi sepenuhnya ruang dialektika gagasan, melainkan sering kali menjadi arena kompetisi administratif dan formalitas akademik. Di sinilah seharusnya HmI hadir bukan sekadar sebagai organisasi kaderisasi, tetapi sebagai gerakan moral dan intelektual.
Relevansi HmI tidak diukur dari banyaknya komisariat, megahnya sekretariat, atau ramainya seremoni milad. Relevansi diuji dari keberanian bersikap, kejernihan berpikir, dan konsistensi memperjuangkan nilai. Apakah kader HmI masih menjadi pembaca zaman? Atau justru larut dalam arus zaman?
Spirit keislaman hari ini tidak cukup dimaknai sebatas simbol dan retorika. Ia harus hadir dalam etika publik, dalam keberpihakan pada keadilan sosial, dalam keberanian mengkritik kekuasaan yang melenceng, sekaligus dalam kesiapan menawarkan solusi yang rasional dan solutif. Keindonesiaan pun bukan sekadar nasionalisme seremonial, tetapi komitmen nyata menjaga persatuan di tengah polarisasi yang makin tajam.
79 tahun adalah usia yang matang. Ia bukan lagi fase pembuktian eksistensi, melainkan fase pertanggungjawaban sejarah.
HmI tidak boleh menjadi organisasi yang hanya sibuk dengan dinamika internal dan kontestasi jabatan. Ia harus kembali menjadi laboratorium pemikiran, kawah candradimuka kepemimpinan, dan ruang pembentukan karakter. Kader HmI harus hadir sebagai intelektual yang rendah hati, aktivis yang rasional, dan pemimpin yang berintegritas.
Menguji relevansi berarti berani bertanya dengan jujur:
Apakah kita masih setia pada cita-cita awal pendirian?
Apakah kaderisasi masih melahirkan pemikir, atau hanya pengurus?
Apakah perjuangan kita masih berorientasi pada umat dan bangsa, atau sudah terjebak dalam kepentingan jangka pendek?
Sejarah tidak pernah memberi tempat istimewa pada organisasi yang kehilangan ruhnya. Ia hanya mencatat mereka yang konsisten menjaga idealisme sekaligus adaptif terhadap perubahan.
Di usia ke-79 ini, HmI tidak membutuhkan nostalgia belaka. HMI membutuhkan refleksi yang jernih dan keberanian untuk bercermin. Bukan sekadar mengulang slogan, tetapi memperbarui komitmen. Bukan sekadar mengingat sejarah, tetapi menulis babak baru dengan kesadaran zaman.
Karena pada akhirnya, relevansi bukan soal usia.
Relevansi adalah soal keberanian menjaga ruh perjuangan di tengah godaan pragmatisme.
Tujuh puluh sembilan tahun bukan sekadar angka. Ia adalah pengingat bahwa sejarah sedang menilai: apakah HmI tetap menjadi gerakan moral dan intelektual, atau perlahan berubah menjadi organisasi administratif tanpa daya gugat.
Jika dua komitmen awal keislaman dan keindonesiaan masih kita yakini sebagai fondasi, maka tugas kita hari ini bukan hanya merawatnya dalam narasi, tetapi menghidupkannya dalam tindakan.
Dan itu dimulai dari keberanian untuk tetap menjadi gerakan—bukan sekadar organisasi.
Selamat Milad HMI ke-79.
Semoga tetap tegak dalam nilai, jernih dalam berpikir, dan berani dalam bersikap.
Penulis : Prayoga Romin Saputra (Ketua Umum HmI Cabang Persiapan Mimika)


